Social Icons

Mudah Tersulut Isu SARA

Isu SARA mudah menyulut amarah seseorang atau kelompok. Isu tersebut biasa terkait dengan hal-hal yang antara lain: suku, agama, golongan, ras (warna kulit), kesukuan, strata, dll. Isu ini tidak mengenal usia, sehingga orang mudah tersulut untuk melakukan provokasi dan melakukan hal-hal yang tidak bertanggung jawab. Isu SARA, juga mudah tersulut melalui media sosial kapanpun dan dimanapun, bagaikan mata rantai. Karena isu tersebut, kini nilai-nilai Pancasila mengalami pergeseran. Mata rantai itu dapat terputus, melalui proses pendidikan, yang melibatkan antara lain: orang tua, semua lapisan masyarakat, sekolah, negara , institusi terkait lainnya, dll.

Generasi Berkarakter Pancasila. Terkait dengan isu SARA yang berkembang. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Dalam sambutannya pada tanggal 2 Mei 2015 mengajak dan berikhtiar mengembalikan kesadaran tentang pentingnya karakter Pancasila dalam pendidikan kita. 


Pintu Gerbang
Kerajaan Majapahit
Budaya merupakan pintu gerbang masuk, berbagai budaya asing masuk ke Indonesia, tidak terkecuali agama. Jangan sekali-kali kau merusak pintu gerbang itu! Indonesia, membentang di katulistiwa. Terbentangnya Indonesia memiliki ribuan pulau, beraneka ragam suku, agama, kepercayaan, etnis, budaya, dll. 

Indonesia maju bila keharmonisan terjaga
Jangan memecah belah Indonesia dengan mengatas namakan agama, ras (warna kulit), budaya, ideologi, dll. Kalau ada yang mendakwahkan permusuhan atas nama itu, dengarkan dengan mata hati dan semoga pembaca tidak terpengaruh ikut-ikutan membenci atas nama agama atau keyakinan tertentu. 




Belajarlah dari masa lalu. Jangan pernah mau diadu domba. Indonesia dengan keberagaman yang ada, merupakan anugrah Tuhan. Dan keberagaman, ini atas keinginan dan kehendak Tuhan. Namun yang terjadi adalah sikap prejudice.


Jangan merasa jadi panutan, kalau hanya untuk meng adu domba orang lain. Pertunjukan seperti ini sering dipertonkan di berbagai media, dengan mengatas namakan keyakinan dan agama tertentu. Ada yang didalam ruangan gedung  dan ada juga yang luar gedung. Ironis, jadi panutan koq seperti itu!. Hanya orang bodoh yang mau diperlakukan seperti gambar di atas.

Sikap prejudice
Prejudice, merupakan sikap tidak baik dalam hubungan dan keterhubungan antar manusia. Sikap itu, merupakan perasaan tidak adil, yang menimbulkan rasa suka atau tidak terhadap seseorang atau kelompok. Tahukah Anda bahwa sikap seperti itu di latar belakangi oleh: jenis kelamin (gender), ras, agama, etnis, strata, budaya, dan sikap pribadi lainya. Sikap seperti ini juga di latar belakangi oleh penilaian sesaat tanpa melihat siapa orang atau kelompok yang dinilai. Sikap yang tidak terpuji, hanya mengutamakan ego dan kelompoknya. Dan sikap seperti itu, tidak menyadari ke-Esa-an Tuhan.

Manusia diciptakan Tuhan adalah unik. Keunikan itu tidak saja pada manusia secara individu, akan tetapi juga kelompok dan suku-suku yang ada di Indonesia. Bila kita merasakan bahwa kita adalah makhluk Tuhan, maka kita akan merasakan keunikan itu. Apakah Anda merasakan keunikan itu?

Dengan keunikan dan keberagaman itu maka diperlukan perekat, antara satu dengan yang lain, yang merupakan prinsip paling mendasar yaitu Pancasila sebagai pemersatu bangsa.




Menghafal Pancasila saja tidak cukup. Tanpa memahami dan memaknai isi yang terkandung dalam lima sila dari sila-sila yang ada.
  1. Ketuhanan Yang Maha Esa 
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seluruh Indonesia.
Ada yang terlupakan!. Disamping terlupakan, juga seiring berjalannya waktu, kini mengalami pergeseran nilai-nilai. Bahwa Pancasila merupakan ajaran prinsip. Prinsip dalam hubungan dan keterhubungan antar manusia, sebagaimana juga agama membawa ajaran di sini klik.

Bhineka Tunggal Ika warisan dari Nusantara. Ke-Bhinekaan ini perekat merupakan semboyan Pancasila. Contoh kongkritnya adalah sebutan kepada Tuhan. Masing-masing suku, etnis memiliki nama sebutan kepada Tuhan. Contoh: Idogei (Batak), Gusti (Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur), SangHyang Widi Wasa (Jawa/Bali), dan masih banyak lagi sebutan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di samping itu, Indonesia memiliki 6 agama yang di akui, yaitu: Hindu , Budha, Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, dan Konghucu. Ini adalah kebinekaan dalam berkeTuhanan di Indonesia. Semua agama yang ada, cara menyembahnya pun akan sangat berlainan antara agama satu dengan yang lain.

Seharusnya Anda tahu. Dari agama-agama yang diakui oleh Negara, sebelum agama itu ada, Nusantara sudah memiliki agama-agama sebelumnya. Berikut Agama-agama asli Nusantara.
  1. Sunda Wiwitan yang dipeluk oleh masyarakat Sunda di Kanekes, Lebak, Banten
  2. Sunda Wiwitan aliran Madrais, juga dikenal sebagai agama Cigugur (dan ada beberapa penamaan lain) di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat
  3. Buhun di Jawa Barat
  4. Kejawen di Jawa Tengah dan Jawa Timur
  5. Parmalim, agama asli Batak
  6. Kaharingan di Kalimantan
  7. Tonaas Walian di Minahasa, Sulawesi Utara
  8. Tolottang di Sulawesi Selatan
  9. Aluk Todolo agama asli orang Toraja (Tana Toraja, Toraja Utara, dan Mamasa)
  10. Wetu Telu di Lombok
  11. Naurus di Pulau Seram, Provinsi Maluku
Bhineka Tunggal Ika, jangan jadi slogan belaka. Berikut ini Sunda wiwitan. Akankah ini terasingkan?



Penilaian sesaat akan menyesatkan.

Selain agama-agama yang ada, Indonesia juga memiliki aliran kepercayaan kepada Tuhan. Di Indonesia, aliran kepercayaan yang paling banyak penganutnya adalah Agama Buhun. Data yang terekam oleh peneliti Abdul Rozak, penulis Teologi Kebatinan Sunda, menunjukkan jumlah pemeluk agama ini 100 ribu orang. Jika angka ini benar, Agama Buhun jelas salah satu aliran kepercayaan terbesar di Indonesia, yaitu 25 persen dari seluruh penghayat aliran kepercayaan. Data Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2003 mengungkapkan, dari 245 aliran kepercayaan yang terdaftar, sementara keseluruhan penghayat mencapai 400 ribu jiwa lebih. Daftar Agama Asli Nusantara (kepercayaan), berikut dari sumber (Wiki)

Kedai Harmoni VI: Dinamika Kehidupan Penghayat Kepercayaan

  1. Agama Bali (lebih sering disebut sebagai Hindu Bali atau Hindu Dharma)
  2. Aluk Todolo (Tana Toraja)
  3. Sunda Wiwitan (Kanekes, Banten)
  4. Agama Djawa Sunda (Kuningan, Jawa Barat)
  5. Buhun (Jawa Barat)
  6. Kejawen (Jawa Tengah dan Jawa Timur)
  7. Parmalim (Sumatera Utara)
  8. Kaharingan (Kalimantan)
  9. Tonaas Walian (Minahasa, Sulawesi Utara)
  10. Tolottang (Sulawesi Selatan)
  11. Wetu Telu (Lombok)
  12. Naurus (pulau Seram, Maluku)
  13. Aliran Mulajadi Nabolon
  14. Marapu (Sumba)
  15. Purwoduksino
  16. Budi Luhur
  17. Pahkampetan
  18. Bolim
  19. Basora
  20. Samawi
  21. Sirnagalih
Dari, sinilah Pancasila digali, luasnya Nusantara, yang terdiri dari beraneka ragam suku, budaya, dan dengan latar belakang yang berlainan.

Tidak terpengaruh isu SARA
Jadikan semua ini sebagai pembelajaran buat kita bersama. Damai dan majulah Indonesia ku, dengan hidup yang saling berdampingan, gotong royong di tanah air tercinta. Siapa lagi yang akan membangun keharmonisan ini, di masa depan selain kita bersama.

Menjaga keharmonisan
Terjaganya keharmonisan dapat dilakukan dengan cara 
memupuk hubungan baik antar individu manusia dan antar golongan/kelopok, tidak saling curiga, tidak bersikap prejudice, saling gotong royong, waspada terhadap terhadap provokasi yang tidak bertanggung jawab, tidak terpengaruh isu SARA, utamakan dialog dalam hubungan antar manusia dll.

Sumber bacaan
http://ahmadsamantho.wordpress.com/2013/05/28/nama-agama-agama-asli-nusantara/
http://faktakeren.com/agama-asli-nusantara-sebelum-agama-resmi-masuk-ke-nusantara
http://id.wikipedia.org/wiki/Agama_asli_Nusantara
 

Follow by Email

 
Blogger Templates